Kota Tua Padang Panjang yang Mulai Berbenah

Kota Tua Padang Panjang Yang Mulai Berbenah

Kereta Api melintas di Jembatan Tinggi, terbang masuk Padang Panjang dari arah Padang

Kalau mendengar nama kota Padang Panjang di Sumatera Barat, apa yang pertama kali terlintas di benak anda ?
Hujan.. dingin.. kota mungil.. sate Mak Syukur.. Mifan.. dan banyak lagi ?

Semuanya benar, tergantung dari kesan apa yang paling kuat di hati anda tentang kota Padang Panjang ini.

Bahkan bagi anda pecinta Hamka sebagai seorang sastrawan, pasti mengenal Padang Panjang sebagai salah satu latar novel romantisnya yang tragis yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Padang Panjang, dengan luas cuma 23 km2 dan jumlah penduduk lebih kurang 53.000 jiwa pada tahun 2009 dan memiliki hanya dua kecamatan, menjadikan kota ini sebagai salah satu kota terkecil di NKRI ini.

Tapi jangan salah, walaupun kecil dari segi luas wilayah tapi kota Padang Panjang menyimpan sejarah yang panjang.

Tanggal 1 Desember 2020 yang lalu kota ini genap berumur 230 tahun (Bediri sejak 1790). Sudah cukup tua memang.

Dalam rentang 230 tahun umur kota ini begitu banyak sejarah yang tercatat mengiringi perjalanan kota Padang Panjang.

Di zaman kolonial Belanda, kota yang secara geografis terletak sangat strategis di jantung Provinsi Sumatera Barat ini dipandang sabagai salah satu kota yang sangat penting.

Ketika sistim tanam paksa dijalankan kolonial belanda, Sumatera Barat termasuk sebagai salah satu daerah penghasil kopi utama dan Padang Panjang adalah kota pengumpul hasil tanaman kopi dari daerah-daerah sekitarnya.

Saat itu konon begitu banyak gudang-gudang pengumpul kopi di Padang Panjang, untuk selanjutnya dikirim ke Eropa melalui Padang sebagai kota utama yang memiliki pelabuhan Emma Haven atau nama lain dari Teluk Bayur.

Saat itu Kota Padang Panjang dikenal sebagai kota dagang utama di Sumatera Barat, khususnya di Wilayah pedalaman Sumatera Barat atau yang disebut Padangsche Bovenlanden.

Konon dimasa itu seorang saudagar belum dianggap besar jika belum memiliki gudang pengumpul kopi di Padang Panjang.

Foto Tempo Doeloe tentang aktifitas pasar rakyat di Padang Panjang

Aktivitas di Pasar Rakyat Padang Panjang Tahun 1935

Stasiun Kereta Api Padang Panjang 1930

Wajah Padang Panjang tempo doeloe

Nama Padang Panjang juga dibesarkan oleh aktivitas pendidikan yang pesat jauh melampaui kota-kota lain di Sumatera Barat bahkan Indonesia sekalipun.

Bahkan saking bergairahnya iklim pendidikan di kota Padang Panjang pada awal abad lalu menjadikan kota ini sangat kondusif untuk menerima pemikiran baru.

Tak heran kalau Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA memilih untuk membesarkan Muhammadiyah di kota ini, setelah melakukan lawatan ke Jogja pada tahun 1925.

Sejarah kependidikan memang terentang panjang di kota ini.

Adalah Diniyah Putri sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ibu Rahmah El Yunusiah di awal abad yang lalu menjadi sebuah catatan fenomenal kota ini.

Bagaimana mungkin di era penjajahan berdiri sebuah lembaga pendidikan untuk memberdayakan wanita.. sungguh mustahil.. pada waktu itu, tapi hal itu terjadi di Padang Panjang.

Bahkan lembaga ini masih bertahan sampai detik ini dengan kualitas yang sangat bagus dan dikenal luas bukan saja ditingkat nasional bahkan regional.

Cerita tentang Diniyah Putri adalah cerita manis tentang seorang perempuan perkasa yang lahir di era kolonialisme. Rahmah Elyunusah yang dikenal keras hati, teguh pendirian, dan kuat kemauan,semangat belajarnya pun sangat kuat.

Ia gigih berjuang mewujudkan cita-citanya, yakni mendirikan sekolah khusus kaum perempuan, agar kaum wanita tidak pasrah pada keadaan dan bangkit memperoleh keseteraan dengan kaum laki-laki.

Kenyataan inilah yang mendorong semangat wanita yang pernah berguru pada Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA) alias Haji Rasul, ayahanda Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) di surau Jembatan Besi, Padang Panjang, untuk mendidik kaum perempuan menurut dasar agama dengan mendirikan Diniyah School Putri.

Pada 1 November 1923 sekolah itu dibuka dengan nama Madrasah Diniyah lil Banat dipimpin oleh Rangkayo Rahmah el-Yunusiyah.

Saat itu muridnya berjumlah 71 terdiri dari para ibu muda, bertempat di Masjid Pasar Usang.

Mula-mula mereka belajar ilmu agama dan tata bahasa Arab. Belakangan sekolah ini menerapkan sistem pendidikan modern, mengabungkan agama, umum dan pendidikan ketrampilan.

Kiprahnya dalam dunia pendidikan mendapat perhatian Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo, Dr. Syekh Abdurrahman Taj, yang sempat berkunjung ke Diniyah School Putri pada 1955. Pada 1957, ia mendapat gelar sebagai Syaihah oleh Universitas Al-Azhar, setara dengan Syekh Mahmoud Salthout, mantan Rektor Al-Azhar.

Padang Panjang tempo doeloe juga sudah memiliki Sumatera Thawalib. Lembaga pendidikan yang didirikan oleh H. Abdul Karim Amrullah, ayah Buya Hamka sebagai kelanjutan dari Surau Jembatan Besi yang diasuhnya selama ini.

Lembaga pendidikan agama terus berkembang dan turut dibesarkan oleh Zainudin Labay el yunusy yang juga kakak dari Rahmah El Yunusiah.

Sebelum Pesantren Gontor berdiri Thawalib Padang Panjang sudah melahirkan lulusan-lulusan terbaiknya. Cukup banyak tokoh nasional yang berasal dari Thawalib Padang Panjang, salah satunya Buya Hamka.

Sebagai salah seorang pengaggum Buya Hamka saya begitu menikmati membayangkan bagaimana beliau melakukan aktivitas sehari-hari di kota kecil ini. Seperti apa wajah kota ini sekian puluh tahun yang lalu dimana seorang ulama besar yang berkaliber internasional pernah menghabiskan masa kecilnya di sini.

Sejarah tidak cuma mencatat kisah manis Padang Panjang tetapi juga kisah pahit, sebagai daerah yang terletak persis di atas Sesar Semangko, salah satu patahan kulit bumi yang aktif terentang dari Aceh, Tarutung, Padang Panjang sampai ke Liwa Lampung sana, menjadikan kota ini cukup akrab dengan gempa bumi.

Perisiwa gempa bumi paling diingat terjadi pada tanggal 28 Juni 1926, gempa dahsyat tersebut meluluhlantakan kota tua ini dan menelan banyak korban jiwa.

Saking dahsyatnya peristiwa gempa bumi, sehingga generasi tua Padang Panjang yang belum akrab dengan kalender menjadikan peristiwa itu sebagai salah satu patokan waktu.

Misalnya untuk menentukan tahun kelahiran anak keturunan mereka yang diasosiasikan disekitar peristiwa gempa tersebut.

Berikut beberapa foto usang tentang dampak gempa bumi tahunu 1926 di Padang Panjang

PADANG PANJANG HARI INI

Jika masa-masa awal abad lalu dan sebelum kemerdekaan, Padang Panjang adalah sebuah cerita manis, cerita tentang kejayaan sebuah kota kecil. Tetapi hari ini Padang Panjang adalah sebuah sosok yang sedang berjuang meraih kejayaan itu kembali. Pasca kemerdekaan kejayaan Padang Panjang berangsur surut.

Dari sisi ekonomi Padang Panjang mulai ditinggalkan oleh kota-kota sekitar yang tumbuh pesat menjadi usat pusat pertumbuhan ekonomi seperti Bukittinggi, Solok dan Payakumbuh. karena dari sisi sumber daya alam Padang Panjang tidak kuat bersaing dengan daerah sekitar, hal ini disebabkan luas wilayah yang terlampau kecil.

Dari sisi sektor kependidikan, Kota Padang Lebih dilirik, karena sebagai kota utama, Padang juga sebagai kota tujuan utama pendidikan di Sumatera Barat.

Namun bukan berarti predikat kota pendidikan lepas dari Padang Panjang. Keberadaan Diniyah Putri, Thawalib, dan Lembaga Pendidikan Muhammadiyah dan STSI, dan ISI tetap membuat Padang Panjang dikenal sebagai Kota Pendidikan.

Dalam gerak bangkit kota ini, sektor pendidikan tetap menjadi salah satu fokus pemerintah kota ini.

Kepercayaan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk membangun Sekolah Super Unggul di Kota Padang Panjang adalah lompatan tak terkira dalam menjaga reputasi kota ini.

Pemerintah Kota Padang Panjang hari ini memang dituntut keratif dan inovatif dalam mengembangkan kota ini.

Mau dibawa kemana kota tua ini?

Dari sisi Sumber Daya Alam Padang Panjang sangat minim, daerah pertanian sangat sempit untuk dikembangkan. Sektor perdagangan barangkali masih memungkinkan mengingat letak yang strategis, namun kata-kata “Letak yang strategis di persimpangan jalur utama Sumatera Barat” selama ini telah membuai Padang Panjang.

Seolah-olah kata itu cukup untuk membuat Padang Panjang tumbuh besar, padahal seiring waktu, bisa saja suatu saat Padang Panjang tidak lagi strategis mengingat telah dibukanya jalur alternatif dari Pintu masuk Sumatera Barat, Padang yaitu jalur Sicincin – Malalak yang notabene menghindari Padang Panjang.

Dalam wacana membangun Padang Panjang, anggaplah pembukaan jalur baru tersebut sebagai sebuah ancaman (thread) bagi Padang Panjang.

Ke depan ancaman tersebut harus diminimalisir bahkan kalau perlu mempunyai dampak nol bagi Padang Panjang.

Konsekwensinya adalah menjadikan Padang Panjang memiliki daya tarik. Artinya ketika orang dari Padang ke Bukittinggi dihadapkan pada dua jalur ke Bukittinggi mereka tetap memilih jalur Padang Panjang karena ada daya tarik yang tak bisa dilewatkan begitu saja.

Sejarah dan Pariwisata mungkin bisa menjadi magnet tersebut!

Selama ini memang Padang Panjang tidak dikenal sebagi kota tujuan wisata.

Selama ini orang tidak begitu mengenal daya tarik pariwisata Padang Panjang kecuali wisata Kulinernya, sering orang singgah ke Padang Panjang hanya untuk menikmati satenya kemudian pergi tanpa berminat utuk berdiam satu atau dua hari di kota ini.

Sate Mak Syukur, Ikon Kuliner Padang Panjang

Ketan Durian… dan Lamang Tapai.. hmm… mak nyuuss.

Ke depan kondisi ini seharusnya bisa dirubah, begitu banyak potensi yang bisa diolah, dikemas dan dijual kepada pengunjung dalam konteks kepariwisataan.

Di samping potensi alam yang sebagian besar belum tersentuh dan penguatan terhadap ikon pariwisata Padang Panjang yang sudah ada saat ini seperti Mifan, PDIKM, wisata kulinernya, maka sejarah panjang dan kekentalan budaya asli Minangkabau di daerah ini bisa menjadi diferensiasi dan faktor nilai tambah kepariwisataan Padang Panjang kedepan.

Dibutuhkan kreativitas serta analisa yang dalam untuk mengemas sejarah dan seni budaya di Padang Panjang sebagai mainstream arah pembangunan pariwisata ke depan.

Saya membayangkan pada suatu saat nanti, ketika orang ingin mendapatkan wisata yang bernuansa masa lalu dan tradisi Minangkabau yang kuat, mereka menjatuhkan pilihannya pada Kota Padang Panjang.

Wisata Budaya dan Sejarah telah menjadi Trade Mark kota ini kedepan.

Semoga.

Source: Kota Hujan 1790
Padang Panjang, Kota Tua Yang Sedang Bangkit

Penelusuran terkait: sejarah kota tua padang, sejarah kampung pondok padang, bangunan tua kota padang, kota tertua di sumatera barat, bukit balibe,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *