Kisah Tukang Potong Rumput Padang

Kisah tentang tukang potong rumput Padang

Jangan menilai seseorang dari penampilan

Obrolah dengan Tukang Potong Rumput

Awalnya meminta seorang tukang rumput, untuk membersihkan halamanku. Kemudian ikut menemani, alias memandori dan cerita-ceritalah kami. Cerita-ceritalah ke sana-sini, sampai ke cerita tentang mendapatkan rumah ini.

Rumah ini kami beli dengan harga yang murah, tapi pas membangunnya menghabiskan cukup banyak biaya. Sampai tukang rumput itu menyebut: “Kalau mau investasi belilah kedai atau toko dulu jangan rumah dulu,” katanya.

“Gitu ya?” Tanyaku penasaran

“Iya” jawabnya lagi,

Pelajaran dari Tukang Potong Rumput

Kalau beli rumah, baik beli atau membangunnya membutuhkan biaya, sedangkan ketika kita mau menyewakan atau menjualnya itu agak susah. Kalau mau berinvestasi di property, belilah toko dulu walaupun kecil  dan bangun! Sedikit biaya yang dikeluarkan, tapi potensi hasil kontrakannya lumayan menjanjikan, itu kalau 1, coba bayangkan apalagi kalau banyak. ” Jelasnya

“Sedangkan untuk dijual lagi, cukup menguntungkan, apalagi kalau disewakan atau dikontrakkan, itu sudah jadi mesin, uang. Pensiun nanti ketika kita tidak lagi bekerja, kita ada penghasilan, rekening tetap terisi dan tidak merepotkan anak menantu, bahkan kalau bisa justru membantu.” Jelasnya lagi.

Tukang Potong Rumput Milyarder Rumahnya

Saya menjalani tugas sebagai tukang rumput hanya sebagai hobi, selebihnya untuk mencari informasi dan mencari properti untuk dibeli.

“Oh begitu ya?”

Hari ini dapat pelajaran berharga,  hobiku berdiskusi selalu membawa rejaki, bukan kue atau uang orang beri, tapi ilmu yang bisa dikaji. Biasanya orang berilmu akan mudah berbagi, apalagi kalau sudah sreg di hati.

Beda halnya dengan uang atau money, bahkan sodara sendiri enggan untuk sekedar meminjamkan sedikit dana atau biaya.

Jangan menilai seseorang dari penampilan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *