Video Penggerebekan Panti Pijat Spa Plus di Jakarta

“Semula ia datang ke kota ini bertujuan mencari pekerjaan.
Karena lahan pekerjan yang minim, akhirnya ia terdampar
di salah satu tempat pijat di dekat Pantai Padang
dengan gaji seadanya”.
JAKARTA – Pijat sekedar relaksasi atau sek-s? Kali ini tim investigasi Poskota mengangkat lika-liku dunia pijat-memijat.
Selain menawarkan pijat kebugaran, ternyata panti pijat juga menyediakan layanan esek-esek sesaat.
Di Kota Jakarta, sudah sejak tiga tahun terakhir bermunculan tempat-tempat pijat di beberapa sudut kota. Banyak anggapan dari berbagai kalangan terkait urusan pijat memijat ini. Tidak hanya sekedar untuk membuat tubuh bugar.
Namun, pijat tidak hanya membuat tubuh menjadi rileks dan terasa bugar, tetapi konon dapat pula melancarkan peredaran darah hingga menyembuhkan penyakit.

Sudah barang tentu, semua orang mengetahui apa itu pijat. Pijat, bahkan sudah dikenalkan sejak kita masih bayi. Sehingga ada bermacam jenis pijat seperti refleksi, tradisonal bahkan yang paling hot namanya pijat plus-plus.

Makin banyaknya tempat pijat, juga meramaikan dunia pros-titusi. Tempat pijat sering disalahgunakan oleh pemiliknya menjadi tempat pros-titusi terselubung.

“HK” adalah salah satu tempat pijat di Kota Jakarta yang cukup bersih. Ruang pijatnya hanya dibatasi dengan selembar tirai. Sehingga aktivitas para pemijat dan tamunya dapat terkontrol. Di tempat seperti ini cukup sulit untuk melakukan aktivitas di luar pijat, karena cenderung terbuka.

Di tempat ini juga dilengkapi dengan berbagai sarana lain. Selain pijat, tamu yang datang juga bisa menikmati fasilitas relaksasi lainnya, seperti sauna atau mandi uap maupun berendam dengan air panas. Tempat pijat yang dilengkapi sarana penunjang lain, sudah barang tentu cukup mahal.

Sayangnya, untuk menarik peminat, kenyataannya banyak tempat pijat yang menawarkan hal lain. Banyak tempat prostitusi yang berkamuflase sebagai tempat pijat. Untuk sekali pijat di sana, cukup mengeluarkan sebanyak Rp100 ribu.

Seperti yang diutarakan Bunga, 35 (bukan nama sebenarnya). Ia mengaku berasal dari pulau Sumatra. Ia baru enam bulan berada di Kota Jakarta.

Semula ia datang ke kota ini bertujuan mencari pekerjaan. Karena lahan pekerjan yang minim, akhirnya ia terdampar di salah satu tempat pijat di dekat Pantai Jakarta dengan gaji seadanya.

“Gaji saya tergantung banyaknya tamu yang datang ke tempat ini. Rata-rat per bulannya sayang mendapat uang dari majikan Rp150 ribu. Uang sebanyak itu mana cukup untuk diberikan kepada keluarga di kampung,” ujarnya.

Untuk menambah pengahasilannya, jika diminta, ia bersedia memberikan layanan tambahan jika sesuai dengan harga yang disepakati dengan tamunya.

“Awalnya memang bertentangan dengan hati nurani. Lama kelamaan kahirnya saya menjadi terbiasa. Bahkan sekarang saya sering memancing tamu untuk mendapatkan layanan tambahan. Pijat luar dalam,” ujarnya tersenyum renyah.

Lain lagi dengan Bunga. Synthia, 26 (juga bukan nama sebenarnya), secara terang-terangan mengakui bahwa ia telah lama bekerja sebagai tukang pijat. Baik pijat yang sebenar pijat maupun pijat plus.

Selain menjadi pekerja di salah satu tempat pijat, Sonya juga menerima panggilan dari tamu-tamu hotel yang membutuhkan jasa tukang pijat. Untuk hal ini, ia bekerjasama dengan petugas hotel.

“Door to door, bang. Kalau ada tamu hotel yang menggunakan jasa tukang pijat, petugas hotel menghubungi saya melalui handphone,” katanya.

Diakuinya, ia lebih senang menerima panggilan tamu hotel daripada tamu yang datang ke tempat pijat ia bekerja.

Selain pijat, yang pasti tamu hotelnya selau minta layanan plus, uang yang diterimanya dari tamu tersebut lumayan banyak. Apalagi jika si tamu merasa mendapat service memuaskan.

“Jika saya melayani tamu hotel, dalam satu malam saya bisa mengantongi uang sebesar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta,” katanya lagi.

Kenyataan ini membuat panti pijat yang sesungguhnya, maupun pekerjanya merasa tercoreng. Bahkan, banyak pula yang malu mengaku menjalani pekerjaan sebagai pemijat.

Di sisi lain, godaan untuk melayani kencan cukup deras di kalangan pemijat yang bekerja di panti-panti pijat.

Gaji yang cenderung rendah membuat mereka mengharapkan pendapatan lain dengan memberi pelayanan khusus bagi tamunya. Sehingga, menjadi pemijat plus dianggap sebagai celah untuk mendapat uang dengan mudah.

Dengan kemampuan pijat sekedarnya, wanita muda dengan tubuh mulus ini, ikut meramaikan etalase-etalase panti pijat. Mereka tidak sekedar memberi pelayanan pijatan, tetapi juga menawarkan tubuhnya sebagai jasa pemuas syahwat.

Wanita-wanita muda cantik inilah yang menghiasi sejumlah panti pijat. Di antara mereka, selain berumur 20-an, juga terdapat yang masih berumur belasan.

Kebanyakan, mereka adalah pencari kerja yang ujung-ujungnya menjadi pemijat plus. Selain memijat para tamu, mereka juga memberi layanan kencan. Bahkan, tamu pun diberi pijatan khusus di alat vit-al.

Menceburkan diri menjadi pemijat yang sekaligus penghibur lelaki, sesungguhnya mereka jalani karena penghasilan sebagai pemijat tidak terlalu besar. Sedangkan untuk keluar sebagai karyawan panti pijat, tidaklah mudah, karena terikat kontrak.

Sadar bahwa pemijat plus bukanlah pekerjaan yang baik, membuat banyak kalangan ini menutupi pekerjaan sesungguhnya di hadapan keluarga.

Sehingga, yang diketahui keluarga, hanyalah mendapat hasil jerih payah mereka, tanpa tahu bahwa mereka termasuk golongan perempuan pemuas naf-su lelaki.

Menanggapi fenomena ini, Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) Kota Jakarta John K. mengakui bahwa di Kota Jakarta terdapat banyak sekali tempat pijat.

“Kita masih kesulitan untuk mengidentifikasikan apakah ada di salah satu tempat pijat yang ada itu menawarkan jasa tambahan alias plus-plus,” kata John.

Budhi menegaskan, bila ada laporan dari masyarakat bahwa diantara tempat pijat yang ada itu melakukan kegiatan mesum, Satpol PP Kota Jakarta tidak akan pandang bulu, siapapun pemiliknya, akan ditindak tegas. Jika terbukti diantara tempat pijat itu yang tidak mengantongi izin usaha, maka akan ditutup.

Mengenai izin usaha untuk tempat pijat ini, pemerintah kota telah menetapkan aturan bahwa di sekitar pemukiman penduduk, dekat sekolah, rumah ibadah dan fasilitas umum tidak dibenarkan membangun tempat pijat ini.

Pihaknya sering melakukan penertiban di berbagai tempat pijat. Hanya saja ketika sampai ke tempat pijat itu, ia tidak menemui adanya pijat plus-plus. Yang ditemukan hanya pelanggaran tidak adanya pemilik memiliki izin usaha.

“Kami berharap, demi ketertiban bersama, jika ada masyarakat yang mengetahui pijat plus-plus ini, segera beritahu. Setiap pelanggaran tentu akan ditindak,” katanya lagi.

SM.Ridha/Rio/Eriandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *