Tempat Wisata di Jogja yang Wajib Dikunjungi

Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang terletak di sebelah selatan
Pulau Jawa. Kota ini penuh dengan keistimewaan dan ragam budaya. Daya
tarik wisatanya membuat banyak orang yang berkunjung kesana. Sejumlah
tempat di jogja menjadi tempat  tujuan wisata
sebagian besar masyarakat Indonesia. 

Kota ini tidak hanya terkenal di
kalangan masyarakat Indonesia, tapi juga mancanegara. Mayoritas
masyarakat Jogja yang masih memegang teguh tradisi Jawa juga memiliki
daya tarik tersendiri. Akibatnya ada banyak tempat yang tersebar di
jogja beserta ribuan mitos-mitos yang hidup di dalamnya.

Bahkan akibat
mitos tersebut, ada beberapa tempat wisata yang kemudian dikenal dengan
keangkerannya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan minat wisatawan
untuk berkunjung kesana.

tempat-angker-di-jogja-yang-dijadikan-wisata

Keistimewaan Yogyakarta bukan hanya terletak pada kehidupan
masyarakatnya yang masih memegang teguh adat dan budaya Jawa atau
pemerintahannya yang masih mempertahankan model kerajaan, namun juga
karena pluralisme yang ada di dalamnya termasuk banyak pula pilihan
tempat wisata yang simpel tapi menarik dan bikin traveler selalu kangen
balik ke kota ini.

Pilihan wisata di Yogyakarta memang komplit mulai
dari tempat biasa hingga yang tak biasa. Kali ini akan membahas tempat
wisata yang tidak biasa, yang menawarkan traveler bertemu makhluk tak
kasat mata. Nyatanya Yogyakarta masih menyimpan tempat-tempat yang
dianggap angker atau berhantu yang sering digunakan sebagai tujuan
wisata mistis.

Tempat Angker Di Jogja

Banyak orang percaya bahwa kita hidup berdampingan dengan makhluk
yang tak kasat mata di sekitar kita. Bahkan, di negara kita masih banyak
ditemui kebudayaan dan adat istiadat yang sangat kental dengan hal-hal
mistis. Salah satu kota yang sangat menjunjungi tinggi adat istiadatnya
yaitu Jogjakarta. Selain itu, kota pelajar ini juga banyak sekali
menyimpan kisah-kisah mistis. Bahkan, ada beberapa tempat yang terkenal
angker.

Tempat angker di Jogja ini dipercaya oleh penduduk setempat
dihuni atau didiami oleh makhluk-makhluk tak kasat mata yang sering
menampakan atau menganggu orang disekitar tempat itu.

Tentu Anda sudah tahu seperti apa keistimewaan kota Gudeg,
Yogyakarta. Selain dari namanya Daerah Istimewa Yogyakarta, kota yang
berada di bagian tengah pulau jawa ini sejak dulu dikenal akan ragam
budaya dan pesona alamnya yang sangat indah. Sebut saja sederet candi
yang menjadi peninggalan bersejarah dalam perkembangan kehidupan di
jaman dulu.

Namun, selain sederet tempat yang menjadi daya tarik
wisatawan Yogyakarta juga memiliki sejumlah tempat yang dikenal angker
dan sangat menyeramkan. Banyak kisah hingga pengakuan dari sejumlah
kalangan yang mengakui langsung keangkeran dari sejumlah tempat
menyeramkan di Yogyakarta.

Pantai Parangtritis Tempat Wisata Mistis

Pantai Parangtritis merupakan pantai yang paling terkenal di
Jogjakarta. Lokasinya yang hanya berjarak 27 kilometer dari kota
Jogjakarta, menjadikan pantai ini termasuk wajib dikunjungi. Ombaknya
yang besar khas pantai di pesisir selatan, serta pemandangannya di waktu
matahari tenggelam yang sangatl romantis, menjadi daya Tarik pantai.
Tak heran jika tempat ini sering digunakan sebagai lokasi prewedding
ataupun sekedar lokasi rekreasi bersama keluarga. Namun di balik
keindahannya, ternyata pantai ini menyimpan banyak misteri yang bersifat
mistis. Mulai dari misteri Kerajaan Kanjeng Ratu Kidul yang melegenda,
sampai misteri ombak besarnya yang sering memakan korban.

Kepercayaan mistis yang paling kuat di sekitar wilayah pantai
Parangtritis adalah adanya sebuah kerajaan laut yang dipimpin oleh
Kanjeng Ratu Kidul. Konon, Kanjeng Ratu Kidul, atau ada juga yang
menyebutnya sebagai Nyi Roro Kidul, adalah salah satu penguasa gaib yang
mengitari Kesultanan Yogyakarta. Karena itu para Sultan harus tetap
menjalin komunikasi dengan penguasa laut selatan ini, dan harus meminta
restu Nyi Roro Kidul dalam melaksanakan setiap kegiatan, agar semua
berjalan dengan aman dan tenteram.

pantai Parangtritis dipercaya sebagai pintu gerbang menuju kerajaan
gaib di laut selatan. Karenanya, di pantai Parangtritis sering dilakukan
tata cara adat agar sultan bisa berkomunikasi dengan kanjeng ratu gaib
tersebut. Masih erat dengan kepercayaan adanya hubungan dengan kerajaan
gaib di laut selatan, di pantai Parangtritis sering dilakukan upacara
pemberian sesaji atau yang disebut dengan labuhan.

Tradisi ini sendiri
mulai dilakukan sejak jaman Sultan Hamengkubuwono I dan masih
berlangsung hingga saat ini.

Menurut tradisi Kraton Kesultanan Yogyakarta, upacara labuhan
dilakukan secara resmi dalam acara penobatan Sultan, peringatan hari
Ulang Tahun Penobatan Sultan yang disebut “Tingalan Panjenengan” atau
“Tingalan Dalem Panjenengan” atau “Tingalan Jumenengan” dan peringatan
hari “windo” hari ulang tahun penobatan Sultan. “Windon” berarti setiap
delapan tahun.

Selain dari ketiga rangka peristiwa di atas, upacara
labuhan dapat juga diselenggarakan untuk memenuhi hajat tertentu dari
Sri Sultan, misalnya apabila Sri Sultan menikahkan putera-puterinya.
Dengan tradisi ini, diharapkan agar kesejahteraan Sultan dan masyarakat
di sekitar kesultanan tetap terjamin.

Kisah Mistis Pantai Parangtritis

Kisah mistis lain berhubungan dengan larangan memakai baju hijau jika
berkunjung ke pantai Parangtritis. Konon, Ratu Pantai Selatan sangat
menyukai warna hijau. Dalam beberapa lukisan yang dibuat, sang ratu
digambarkan mengenakan pakaian warna hijau juga. Dan jika ada orang
memakai baju hijau (utamanya pria), maka Kanjeng Ratu akan suka, dan
kemungkinan besar akan “direkrut” untuk menjadi pegawainya. Dan tempat
“perekrutan” favorit adalah di pantai Parangtritis ini.

Tak dipungkiri, besarnya ombak di pantai Parangtritis seringkali
membawa korban. Meski secara resmi pemerintah telah melarang wisatawan
untuk mandi di pantai, namun tetap saja ada orang yang melanggarnya.
Atau, jikapun tidak mandi, mereka bermain air terlalu jauh dari bibir
pantai. Uniknya, semua korban yang tenggelam susah ditemukan pada hari
yang sama. Meskipun sudah dicari di seluruh lokasi sekitarnya.

Namun setelah dua atau tiga hari kemudian, jasad orang tersebut akan
ditemukan mengambang dengan sendirinya di lokasi yang tidak jauh dari
tempat menghilangnya. Konon, sang korban “diambil” oleh Kanjeng Ratu
Kidul dan jasadnya disandera untuk sementara waktu. Jika keempat misteri
di atas lebih bersifat mistis, maka misteri hisapan ombak ini bisa
dijelaskan secara ilmiah. Menurut penelitian para ahli, penyebab utama
hilangnya para wisatawan di pantai Parangtritis adalah karena adanya rip
current. Rip current adalah arus balik yang terjadi akibat aliran air
gelombang datang dan kemudian membentur pantai dan kembali lagi ke laut.

Arus itu bisa menjadi amat kuat karena biasanya merupakan akumulasi
dari pertemuan dua atau lebih gelombang datang. Dengan kecepatan
mencapai 80 kilometer per jam, arus balik itu bisa menjadi sangat
mematikan. Korban akan mudah terseret arus balik jika berada terlalu
jauh dari bibir pantai. Jika pada saat terseret arus ini korban kemudian
melawan, maka dia akan semakin jauh terseret arus bawah laut dan
selanjutnya bisa tersangkut karang atau masuk ke dalam patahan dalam
laut. Di sini korban akan diendapkan dan baru bisa kembali terangkat ke
permukaan jika ada arus lain yang mengangkat sedimen dari dasar laut.
Dan hal ini butuh waktu beberapa hari.

Goa Jepang Jogja

Kaliurang sebenarnya adalah kawasan wisata yang berada di lereng
gunung Merapi, disana terdapat Tlaga, air terjun, juga kawasan wisata
keluarga lainnya, namun yang menarik perhatian saya adalah Goa Jepang
yang ternyata untuk mencapainya kita harus tracking menyusuri
jalan-jalan setapak berbatu yang dikelilingi pepohonan rimbun dilereng
bukit sejauh 1100 meter. Dan hampir disetiap tikungan jalan setapak
dijumpai kendi-kendi untuk tempat berendam bagi amfibi-amfibi yang hidup
disekitar sana, hal ini merupakan satu tindakan konservasi yang bagus
untuk kelestarian fauna andemik disana.

Goa Jepang ini bukanlah goa alami yang memiliki stalagmit atau
stalaktit. Menurut pak Dasri [juru kunci], Goa Jepang ini adalah sisa
peninggalan masa penjajahan Jepang yang dikerjakan oleh rakyat Indonesia
secara paksa [kerja romusa] tahun 1942-1945, terdiri dari 25 goa yang
berjajar sepanjang jalan setapak berliku-liku di sisi kanan bukit
Plawangan, jika perjalanan dilanjutkan sampai puncak bukit, disana
terdapat menara pantau yang bisa melihat landscape kota Jogja yang saat
ini digunakan untuk memantau aktivitas gunung Merapi.

Gua yang berada di kaki gunung Merapi ini juga dikenal sebagai tempat
angker yang sangat mengerikan. Dahulu kala di era penjajahan Jepang,
gua ini menjadi jalur alternatif dan juga tempat penyiksaan tawanan
perang hingga sejumlah prajurit. Tak ayal, di dalam gua konon disebut
sering terjadi penampakan-penampakan makhluk gaib yang sangat
menyeramkan.

tempat-angker-di-jogja-yang-dijadikan-wisata

Akses Gua Jepang

Untuk sampai ke Goa Jepang dari pintu masuk Nirmolo Kaliurang,
pengunjung harus menempuh perjalanan menanjak selama 45 menit. Jalur
yang dilalui tidak terlalu terjal tapi berliku. Bagi yang tidak suka
dengan wisata petualangan, mungkin akan menyerah sebelum sempat sampai
ke lokasi Goa Jepang. Tapi bagi yang mampu bertahan, dari pertigaan
jalur antara Plawangan dan Goa Jepang, pengunjung dapat menyaksikan
keindahan Gunung Merapi dari dekat.

Menurut pengelola kompleks wisata alam Nirmolo Kaliurang, Goa Jepang
yang berada di Kaliurang dahulu difungsikan oleh tentara Jepang sebagai
tempat tinggal dan berlindung dari tentara sekutu. Berbeda dengan
karakter Goa Jepang yang ada di beberapa kota lain di Indonesia, seperti
di Bandung, Papua, Bali, NTT, dan Jawa Timur, Goa Jepang yang berada di
Kaliurang berjumlah 25 unit. Goa-goa tersebut saling berhubungan satu
sama lain, masih orisinal, dan tanpa penerangan.

Walau tanpa penerangan, pengunjung tidak perlu khawatir ketika
memasuki goa ini. Di depan pintu masuk goa pertama, terdapat pemandu
yang siap menemani dan menjelaskan berbagai hal tentang goa ini. Dengan
biaya yang relatif terjangkau, pengunjung dapat menyewa fasilitas
penerangan sekaligus ditemani seorang pemandu. Selain Goa Jepang, di
kompleks wisata alam Nirmolo Kaliurang yang berada di bawah pengelolaan
Taman Nasional Gunung Merapi juga terdapat beberapa situs wisata lain –
seperti curug dan Plawangan.

Pengunjung akan mendapatkan dua manfaat sekaligus jika berkunjung ke
kompleks wisata ini. Selain dapat menikmati wisata alam, pengunjung juga
diperkaya dengan pengetahuan sejarah penjajahan Jepang di Indonesia.
Masa perang dan penjajahan sudah usai, kini tak ada lagi senjata yang
disimpan disini, tak ada timbunan makanan untuk tentara perang, tak ada
pula pekerja romusa disini, yang ada hanya ruang-ruang goa dengan
dinding yang lembab dan berlumut, tempat ini telah menyimpan begitu
banyak cerita sejarah masa penjajahan Jepang.

Kisah Mistis wisata Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg Yokyakarta, yang dibangun Sri Sultan Hamengku
Buwono I di tahun 1760 atas permintaan Gubernur Jendral Belanda WH. Van
Ossenberch, kini telah beralih menjadi sebuah museum. Disamping itu,
sering juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kesenian dan pemeran.
Dengan begitu, bekas benteng VOC ini sehari-hari selalu ramai. Walau
begitu, benteng pertahanan yang awalnya bernama Rustenburg ini ternyata
masih angker. Konon benteng tua ini dihuni hantu wanita bule berkaki
seperti kuda. Bahakan terkadang juga muncul defile serdadu berseragam
kompeni jaman dahulu. Konon, pasukan itu muncul tanpa kepala.

Parno, 45 tahun, penarik becak yang biasa mangkal di depan Pasar
Beringharjo, pernah ditemui hantu noni cantik berkaki kuda itu sekitar 3
beberapa bulan yang lalu. Kejadiaannya di atas pukul 24.00 WIB. Ketika
itu, warga Sewon Bantul ini merasa lelah menunggu penumpang dari
pengunjung lesehan Malioboro. Saat menjalankan becak perlahan-lahan di
depan Benteng Vredeburg, dari arah gerbang benteng itu, muncul wanita
cantik dengan gaun panjang. Nalurinya sebagai penarik becak langsung
bekerja. Parno coba mendekati wanita bule cantik itu. Dia menawarkan
jasanya. “Saat wanita menyibakkan kakinya, ternyata berkaki kuda. Nyaris
saja pingsan dibuatnya. Becak saya genjot cepat-cepat meninggalkan
tempat itu sambil berteriak ketakutan,” ceritanya.

Lain lagi Haryanto, warga Pakualaman, Yokyakarta. Saat itu dia
mendapat tugas jaga stand pameran senirupa pada saat Festivai Kesenian
Yokyakarta (FKY). Maklum saja karena pameran senirupa banyak lukisan
yang mahal harganya, sehingga harus dijaga ekstra ketat agar tidak jadi
sasaran maling. Saat dini hari, dia melihat ada suara aneh dari beberapa
bangunan di Benteng Vredeburg. Kemudian terdengar seperti pasukan yang
lagi bersiap untuk berbaris dengan aba-aba bahasa belanda. Derap sepatu
Belanda itu datang seperti mendekati tempatnya berjaga. “Yang membuat
saya berteriak ketakutan, karena sepasukan serdadu yang datang itu tanpa
kepala. teriakan saya membuat geger yang jaga di stand yang lain.
Anehnya yang melihat kejadian mengerikan itu cuma saya sendiri,”
kisahnya.

Tahun 1988, saat diadakan renovasi Pasar Beringharjo, jeritan muncul
membuat takut para pekerja yang tidur dibedeng-bedeng yang terletak di
kawasan dekat benteng. Teror  jeritan itu baru berhenti, setelah
beberapa pekerja menemukan kerangka yang dikubur disebelah utara Benteng
Vredeburg. Oleh para  pekerja, kerangka yang kemungkinan adalah tawanan
dari sel yang berada di Benteng Vredeburg dipindahkan ke pemakaman
umum.

Benteng Vredeburg memang merupakan tangsi militer. Ada dua jenis
tahanan, yaitu sel untuk rakyat atau kawula yang menentang pemerintah
panjajahan Belanda yang berada di sebelah barat pojok  utara yang kini
telah dirubah menjadi musholah untuk para pengunjung dan petugas benteng
Vredeburg. Satu lagi adalah sel yang berada di sebelah timur pintu
gerbang benteng. Bangunan lebih mewah. Tampaknya ini merupakan tempat
tahanan bagi orang-orang VIP atau para bangsawan Keraton Yokyakarta yang
dianggap makar terhadap para penjajah Belanda. Termasuk juga para
pengikut Pangeran Diponegoro ditempatkan disel ini sebelum dibuang
keluar pulau jawa.

Benteng itu juga dikelilingi parit yang dalam dan jembatan gantung.
Bangunan-bangunan kokoh perumahan para opsir , juga sosiatet atau tempat
hiburan para serdadu belanda berada dilingkungan benteng. Kuatnya
benteng itu terlihat saat terjadi gempa yang melanda wilayah DI
Yokyakarta pada tanggal 267 Mei 2006 lalu. Benteng Vrederburg tak
mengalami kerusakan yang berarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *